Senin, 16 September 2013

Mahabatullah


Tasawuf

 


 Cara Menggapai Cinta Allah

 Menjemput CInta Allah Memperoleh cinta Allah (mahabbatullah) adalah sebuah keharusan bagi setiap hamba beriman. Yang pertama karena cinta kepada Allah dan kepada yang lain -apapun nama dan bentuknya- sesungguhnya tidak akan pernah bisa bertemu, karena sifat keduanya yang bertolak belakang. Sedang yang kedua, cinta kepada selain Allah hakikatnya adalah palsu, sumber penderitaan dan awal kehinaan manusia. Sebab, prinsip dasar dalam agama Islam adalah cinta kepada Allah itu sendiri. Tapi, bagaimana cara menggapai cinta Allah itu? Imam Ibnul Qayyim dalam ‘Madarij’nya menyebutkan ada 10 cara mendapatkan cinta Allah. Sebuah informasi yang sangat mahal dan penuh manfaat bagi mereka yang mendambakan cinta ini. Mari kita jalani petuah berharga dari pakar hati ini, agar bisa menjemput cinta Ilahi. 1. Membaca (qiraah) al-Qur’an. Bukan sekedar membaca dan melafazhkan huruf demi huruf tentunya. Tetapi membaca dengan merenungi (tadabbur) dan memahami (tafahhum) kandungan makna-makna dan apa yang dikehendakinya. Agar lafazh-lafazh yang keluar dari mulut kita, adalah lafazh-lafazh yang terfahami. Menjadi suluh dalam kegelapan, dan menjadi pembebas dari kebodohan. 2. Mendekat (taqarrub) kepada Allah. Caranya dengan melaksanakan hal-hal yang sunnah (an-nawaafil) setelah mengerjakan hal-hal yang wajib (fardhu). Ditunaikannya hal-hal yang sunnah akan mengantarkan hamba ke derajat dicintai. Kebersamaannya dengan Allah membuahkan ketengan dan kebahagiaan. Seluruh keinginan, hasrat, kehendak dan lintasan hatinya adalah karena Allah. Bukhari meriwayatkan sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku yang semisal (nilainya) dengan menjalankan hal-hal yang Aku fardhukan baginya. Dan hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan (mengerjakan) an nawaafil hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar. Menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat. Menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang. Dan menjadi kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia memohon kepada-Ku, Aku pasti akan memberinya. Dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti akan melindunginya. Dan tidaklah Aku ragu terhadap sesuatu yang Aku menjadi pelakunya, seperti keraguan-Ku saat mencabut nyawa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian, sedang Aku tidak ingin berbuat buruk kepadanya, namun tetapi harus Aku lakukan.†3. Senantiasa mengingat (dzikir) Allah. Hal ini harus kita lakukan di setiap kesempatan, baik dengan lisan, hati, amal perbuatan maupun keadaan diri. Bisa dikatakan di sini, bahwa bagian hamba dari cinta Allah, sesuai dengan kadar dzikirnya kepada-Nya. Berdzikir yang terus menerus akan membuat kita terjaga dan sadar akan setiap tindakan yang kita ambil. Membantu fikiran kita untuk fokus dan tidak bercabang-cabang. Adakah yang lebih baik keadaannya dari hamba yang seluruh kesadarannya membimbingnya menuju keridhaan dan cinta Allah? 4. Mendahulukan (itsar) hal-hal yang dicintai Allah. Di atas apapun, hal-hal yang dicintai Allah harus kita dahulukan daripada hal-hal yang kita cintai meski sulit dan berat. Utamanya saat kita dikuasai hawa nafsu. Karena kecintaan yang bersih kepada Allah, akan membuahkan kecintaan kepada hal-hal yang dicintai-Nya. Dalam salah satu doanya, Rasulullah memohon cinta Allah dan cinta kepada hal-hal yang bisa mengantarkan beliau kepada cinta Allah itu. Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dhaif dari Abu Darda’, bahwa Rasulullah bersabda, “ Termasuk doanya nabi Dawud adalah; Allahumma, sesungguhnya hamba memohon cinta-Mu, cinta siapapun yang mencintai-Mu, dan (cinta) kepada amal yang menyampaikan hamba kepada cinta-Mu. Allahumma, jadikanlah cinta-Mu lebih hamba cintai daripada (cinta) kepada diri sendiri, keluarga dan air yang dingin.†5. Hati menelaah asma’ dan shifat Allah. Kemudian mempersaksikan dan mengenal-Nya. Ibnul Qayyim menambahkan, “Barangsiapa mengetahui asma’, shifat dan af’al Allah, niscaya mencintai Allah adalah sebuah keniscayaan baginya.†Bukankah tidak kenal, tidak akan saying? Maka jika hamba betul-betul mengenal Allah, pastilah dia akan mencintai-Nya. 6. Mempersaksikan kebaikan dan nikmat Allah. Sesungguhnya jika kita menghitung, akan kita temukan bahwa nikmat dan karunia Allah, baik yang lahir maupun yang batin, tidak terbatas. Dan jika menghitungnya, tentulah kita tidak akan mampu melakukannya. Sedang memperhatikan nikmat-nikmat Allah, akan membimbing hamba mencintai-Nya. 7. Kepasrahan hati secara total di hadapan Allah. Ini adalah hal paling menakjubkan dari cara-cara meraih cinta Allah. Bahkan menurut beliau, tidak ada ungkapan yang bisa mewakilinya. Tidak kata-kata, tidak juga berbagai ibarat. Sebab, cinta yang benar akan mengantarkan pecintanya kepada tauhid, peng-esaan kekasih, untuk kemudian memberikan hartanya yang paling bernilai, yaitu hati! 8. Menyendiri (khalwat) dengan Allah. Ini kita lakukan saat Dia turun ke langit dunia untuk bermunajat kepada-Nya, tilawah al-Qur’an yang merupakan kalam-Nya, menghadap kepada-Nya dengan segenap hati, memperhatikan adab-adab beribadah di hadapan-Nya, kepada menutupnya dengan istighfar dan taubat. 9. Bermajelis bersama hamba-hamba Allah yang mencintai-Nya dengan tulus. Bersama mereka, kita akan memetik sebaik-baik buah pembicaraan, sebab mereka tidak akan berbicara kecuali hal-hal yang memberi maslahat dunia akhirat. Dari sana, kita akan mengetahui bahwa di dalam majelis bersama mereka, ada tambahan berharga untuk diri kita, serta manfaat untuk manusia yang lain. 10.Menjauhi semua hal yang menghalangi hati dari Allah. Hal-hal itu bisa berupa kesyirikan yang menghalangi tauhid, berbagai bid’ah yang bertentangan dengan sunnah, aneka syahwat yang menolak perintah Allah, ghaflah yang melalaikan dzikir kepada-Nya, serta riya’ yang mengotori keikhlasan. Kita harus menyelamatkan hati dari semua penghalang ini, agar mendapatkan hati yang bersih (qalbun salim). Merawat Cinta Jika pohon cinta telah tertanam di dalam hati, berurat berakar, maka kita harus selalu menyiraminya dengan air keikhlasan dalam beribadah dan ittiba’ kepada Rasulullah. Allah berfirman di dalam Ali Imran ayat 31, “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.†Satu hal yang harus kita ketahui, bahwa cinta adalah amalan hati. Sesuai dengan karakternya yang mudah berubah dan rapuh, sangat mungkin cinta kepada Allah juga mengalami naik turun (fluktuasi). Penjagaannya adalah dengan menguatkan pemahaman (quwwatul idraak) dengan tidak pernah berhenti mempertajam akal dengan ilmu yang benar dan bermanfaat. Sebab ilmu akan membimbing akal melakukan fungsinya dengan benar. Utamanya fungsi klasifikasi masalah. Selain itu, kita juga harus selalu menajamkan keberanian hati (syaja’atul qalbi). Di samping berguna untuk menolak godaan nafsu yang memang dahsyat, hal ini juga akan membimbing hati kita melakukan fungsi itsar. Yaitu keberanian mendahulukan kecintaan kepada Allah di atas yang lain meski terasa sulit dan berat. Dengan keduanya, kita kan memperoleh manfaat luar biasa dalam mengatasi fluktuasi cinta. Ibnu Taimiyah berkata, “Hamba yang hidup hatinya, berakal serta peduli akan nasibnya di akhirat, tidak akan mendahulukan kecintaan kepada hal-hal yang membahaya-kan, mencelakakan dan membuatnya menderita.†Rejeki dari Allah Sungguh, hamba yang mendapatkan cinta Allah, adalah dia yang telah mendapatkan rejeki luar biasa dalam hidupnya. Sangat pantas disyukuri dan tidak boleh disia-siakan. Maka, celakalah mereka yang tidak pernah berfikir untuk mendapatkan cinta Allah! (trias) sumber : ar-risalah.or.id

Semua MUSLIM pastilah akan kita dapati akan mengatakan, “aku cinta kepada Allåh”; namun hendaknya ia menjawab tantangan Allåh berikut untuk membuktikan KLAIM-nya.

Allåh berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

(yang artinya) “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam). niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imraan 3:31)

Betapa indahnya ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullaah ketika menafsirkan ayat cinta ini [Raudhatul Muhibbiin: 251. Lih. Badaa-i’ut Tafsiir: 1/498]:

“Maka Allah menjadikan ittiba’ (mengikuti) Rasul sebagai bukti kecintaan mereka kepada Allah.
Keadaan seorang hamba yang dicintai Allah lebih tinggi dari keadaannya yang mencintai Allah.

Permasalahannya bukan pada (pengakuan) cintamu kepada Allah, akan tetapi (apakah) Allah mencintaimu.
Maka ketaatan kepada yang dicintai (Allah dan Rasul) adalah bukti cinta kepada-Nya, sebagaimana diungkapkan (dalam syair) Artinya:

“Engkau bermaksiat kepada ilahi, sedangkan engkau mendakwa cinta kepada-Nya”

“Ini dalam analogi adalah kemustahilan yang diada-adakan”

“Jika saja dakwaan cintamu jujur, niscaya engkau akan mentaati-Nya”

“Sesungguhnya seorang pecinta terhadap yang dicintai, akan taat”

Semua orang, entah ia jujur dalam ketaatannya atau seorang munafik yang bermuka dua, bisa berucap:

“Saya mencintaimu Yaa Allah”

Namun apakah Allah membalas cintanya?

Inilah yang menjadi inti permasalahan…

Maka bukti kejujuran seorang hamba dalam mencintai Allah adalah ittiba’-nya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Tentu saja yang dimaksud ittiba’ di sini adalah dalam segala hal, baik yang dicontohkan untuk kita kerjakan ataupun yang beliau tinggalkan (tidak kerjakan) untuk kita tinggalkan pula

Imam Ibnu Katsir rahimahullaah menafsirkan:

“Ayat ini merupakan pemutus hukum bagi setiap mereka yang mengaku cinta kepada Allah, sedangkan ia tidak berada di atas jalan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam. (Jika demikian) maka sungguh ia seorang PENDUSTA dalam pengakuannya, sampai ia mengikuti syari’at dan agama Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam pada seluruh ucapan dan perbuatan beliau.

Sebagaimana riwayat hadits yang shahih (riwayat Muslim) dari

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, bahwasanya beliau bersabda:

منْ عمِل عملا ليس عليه اَمرنا فهو ردّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.”
(HR. Muslim) [Tafsir Ibnu Katsir: 2/299, Cet. Daar Ibn Hazm 1419 H]

Inilah kenyataan yang merebak saat ini…
Sebagian kaum muslimin begitu mengidolakan tokoh-tokoh fiktif dalam novel dan film, hanya karena tokoh-tokoh khayal tersebut diskenariokan berhias dengan sebagian kecil dari keindahan ajaran Islam.

Sementara tokoh nyata yang mulia nan agung, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, yang merepresentasikan keindahan ajaran Islam secara kaaaffah (sempurna), seolah terkikis dan terlupakan oleh pamor artis dan biduan.
Inikah ayat-ayat (baca: tanda-tanda) cinta kepada Allah?!

Semestinya, jika pengakuaan cinta itu jujur, niscaya mereka berbondong-bondong menuju majelis ilmu, bukan justru mengantri di loket bioskop dan outlet novel “Islami”. Karena hanya di majelis ilmulah, dibacakan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasul-Nya. Menghadiri majelis ilmu, inilah tanda cinta yang hakiki kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sahl bin ‘Abdillah rahimahullaah pernah berucap:

“Tanda cinta kepada Allah adalah cinta pada al-Qur-an. Tanda cinta pada al-Qur-an adalah cinta pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Dan tanda cinta pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah cinta pada sunnahnya…” [lih. Tafsir al-Qurthubi: 4/63, Cet. Daarul Kitaab al-’Arabi]

Yahya bin Mu’adz rahimahullah mengatakan,
”Bukanlah orang yang jujur seorang yang mengaku mencintai Allah akan tetapi tidak menjaga aturan dan larangan-larangan-Nya.” (Jami’ al-‘Ulum, hal. 95).

Bisakah seseorang dikatakan mencintai Allah, jika ia mengerjakan sesuatu yang tidak pernah disyari’atkan dan diperintahkan oleh Nabi-Nya dalam urusan agama ini?!



Semua MUSLIM pastilah akan kita dapati akan mengatakan, “aku cinta kepada Allåh”; namun hendaknya ia menjawab tantangan Allåh berikut untuk membuktikan KLAIM-nya.

Allåh berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

(yang artinya) “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam). niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imraan 3:31)

Betapa indahnya ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullaah ketika menafsirkan ayat cinta ini [Raudhatul Muhibbiin: 251. Lih. Badaa-i’ut Tafsiir: 1/498]:

“Maka Allah menjadikan ittiba’ (mengikuti) Rasul sebagai bukti kecintaan mereka kepada Allah.
Keadaan seorang hamba yang dicintai Allah lebih tinggi dari keadaannya yang mencintai Allah.

Permasalahannya bukan pada (pengakuan) cintamu kepada Allah, akan tetapi (apakah) Allah mencintaimu.
Maka ketaatan kepada yang dicintai (Allah dan Rasul) adalah bukti cinta kepada-Nya, sebagaimana diungkapkan (dalam syair) Artinya:

“Engkau bermaksiat kepada ilahi, sedangkan engkau mendakwa cinta kepada-Nya”

“Ini dalam analogi adalah kemustahilan yang diada-adakan”

“Jika saja dakwaan cintamu jujur, niscaya engkau akan mentaati-Nya”

“Sesungguhnya seorang pecinta terhadap yang dicintai, akan taat”

Semua orang, entah ia jujur dalam ketaatannya atau seorang munafik yang bermuka dua, bisa berucap:

“Saya mencintaimu Yaa Allah”

Namun apakah Allah membalas cintanya?

Inilah yang menjadi inti permasalahan…

Maka bukti kejujuran seorang hamba dalam mencintai Allah adalah ittiba’-nya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Tentu saja yang dimaksud ittiba’ di sini adalah dalam segala hal, baik yang dicontohkan untuk kita kerjakan ataupun yang beliau tinggalkan (tidak kerjakan) untuk kita tinggalkan pula

Imam Ibnu Katsir rahimahullaah menafsirkan:

“Ayat ini merupakan pemutus hukum bagi setiap mereka yang mengaku cinta kepada Allah, sedangkan ia tidak berada di atas jalan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam. (Jika demikian) maka sungguh ia seorang PENDUSTA dalam pengakuannya, sampai ia mengikuti syari’at dan agama Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam pada seluruh ucapan dan perbuatan beliau.

Sebagaimana riwayat hadits yang shahih (riwayat Muslim) dari

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, bahwasanya beliau bersabda:

منْ عمِل عملا ليس عليه اَمرنا فهو ردّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.”
(HR. Muslim) [Tafsir Ibnu Katsir: 2/299, Cet. Daar Ibn Hazm 1419 H]

Inilah kenyataan yang merebak saat ini…
Sebagian kaum muslimin begitu mengidolakan tokoh-tokoh fiktif dalam novel dan film, hanya karena tokoh-tokoh khayal tersebut diskenariokan berhias dengan sebagian kecil dari keindahan ajaran Islam.

Sementara tokoh nyata yang mulia nan agung, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, yang merepresentasikan keindahan ajaran Islam secara kaaaffah (sempurna), seolah terkikis dan terlupakan oleh pamor artis dan biduan.
Inikah ayat-ayat (baca: tanda-tanda) cinta kepada Allah?!

Semestinya, jika pengakuaan cinta itu jujur, niscaya mereka berbondong-bondong menuju majelis ilmu, bukan justru mengantri di loket bioskop dan outlet novel “Islami”. Karena hanya di majelis ilmulah, dibacakan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasul-Nya. Menghadiri majelis ilmu, inilah tanda cinta yang hakiki kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sahl bin ‘Abdillah rahimahullaah pernah berucap:

“Tanda cinta kepada Allah adalah cinta pada al-Qur-an. Tanda cinta pada al-Qur-an adalah cinta pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Dan tanda cinta pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah cinta pada sunnahnya…” [lih. Tafsir al-Qurthubi: 4/63, Cet. Daarul Kitaab al-’Arabi]

Yahya bin Mu’adz rahimahullah mengatakan,
”Bukanlah orang yang jujur seorang yang mengaku mencintai Allah akan tetapi tidak menjaga aturan dan larangan-larangan-Nya.” (Jami’ al-‘Ulum, hal. 95).
Bisakah seseorang dikatakan mencintai Allah, jika ia mengerjakan sesuatu yang tidak pernah disyari’atkan dan diperintahkan oleh Nabi-Nya dalam urusan agama ini?!




       KETIKA AKU KEHILANGAN  CAHAYAMU



            Aku
  Aku.....
adalah bayang bayang
kuikuti setiap langkah asuhanku
aku adalah bayang- bayang
yang harus setia pada setiap langkah momonganku
Aku.....
adalah bayang-bayang....
dari diriku sendiri.......
aku harus menentukan langkahku sendiri
agar bayang-bayangku tak terpisahkan

Aku....
adalah bayang-bayang
yang.....ada karena cahaya......
bila sekelilingku gelap......
,maka.........bayang-bayangku lenyap

Aku adalah bayang-bayang....
yang ada karena Cahaya Mu
aku adalah bayang-bayang....
karena cahaya Mu lah aku ada....

Ya ...Robb ......
Berilah selalu aku cahaya Mu...
agar...bayang-bayangku tidak lenyap....
dan tetap setia pada setiap langkahku...

Ya Rob...
sepercik saja......,sepercik saja
cahaya Mu menerangi hidupku...
karna cahaya Mu - lah aku ada...

Untuk orang-orang yang kucintai,kusayangi
yang senantiasa jadi bayang-bayangku :
Ayah bunda....
ananda......
saudara-saudaraku....sesama Muslim,
seiman yang senantiasa mengingatkan aku
agar.....aku .....menjadi bayang-bayang ku
sendiri karena cahaya Mu... 

Jakarta, 31 juli 2010

Diposkan 30th November 2012 oleh Erna Garnasih

Selasa, 11 Juni 2013

Selamat Datang Hari Bahagia

Selamat Datang Hari Bahagia


02 Juni 2013 Hari Bersejarah bagi kedua insan ini  :

Erna Garnasih  &   Yudi Indra Besar


Semoga Allah SWT menggiring kami ke Jalan Nya
 Dalam setiap desah nafas dan langkah juang
yang harus kami jalani sebagai taqdir yang terindah
di masa tua kami

Terimakasih kepada :
Ibunda dan Orang Tua yang kami cintai dan  kami muliakan 
Kakak-kakak, Adik-adik  dan seluruh kerabat -
yang telah mendoakan, mendukung dan berperan serta
berlangsungnya acara sederhana namun hidmat
" Pernikahan di Usia Senja"  kami,
Semoga barokah bagi kita semua.....aamiin.

Sukabumi, 02 Juni 2013

Sabtu, 11 Mei 2013

Surat Elektronik Untuk Sang Kekasih

Ketika langit redup
Awan mengelantung menjadi mendung
Ada secercah cahaya , yang pasti "terang" Nya menguasai sepenuh bumi
Untuk sebuah mukjizat yang tak terfikirkan oleh manusia

Mimpi tak lagi mengerikan
Sepi tak lagi menjadi hambatan
Untuk meraih Cinta Yang Maha Mencintai
Dalam bentuk yang tak bisa kita mengerti

Ada skenario yang maha hebat
Seolah telah terencana , dan pasti sudah terencana
Benang merah tiga warsa silam, kini Insya Allah menjadi Nyata
Dalam bentuk yang sempurna

Kekasih,
Benang merah itu telah ada
sejak dahulu kala
Ketika kita sama-sama remaja, meski kita dahulu tak pernah saling berkata
Tetapi tatap mata itu bisa dimengerti "Hati Kita"

Allah SWT mengantarmu dalam juang "keikhlasan"
untuk merawat cinta Nya dalam pengabdian dan ibadah,
Allah SWT memberiku amanah yang sama maknanya
dengan amanah yang harus kau terima.

Ketika kita pasrah, bukan menyerah, karena Allah -lah
Cinta Nya terpeilhara di hati kita.
Ketika  amanah itu telah kau jalankan dengan keikhlasan
Ketika itu juga  kewajiban kujalani dengan ikhlas....

Maka.....
Akhirnya, pada saat yang tepat , untuk kita
Allah berikan "Anugrah" itu pada semuanya
Untuknya ada pengabdian panjang dan ketulusan,
meski akhirnya harus terputus karena taqdir usia
Pada perjalananku ada ujian yang harus kuikhlaskan
Terima kasih ya Allah......,
Engkau telah membuat "duka-duka " kami menjadi anugrah
 kepada semuanya. Pada dia yang Engkau panggil,
pada ananda yang kau beri tugas dan keberkahan,
 dan ..
pada kami untuk melanjutkan  merajut
cinta kami di penghujung usia...di lembaran baru
yang menebarkan semangat juang.

Pernikahan di Usia Senja,
Bagi kami adalah , Anugrah ....yang tak terhingga nilainya

Sukabumi, 05 Mei 2013
 Saat aku menerima "Khitbah" dari laki-laki soleh , dan Insyaallah akan menjadi imamku yang baik, Aaamiin.
 


  

Rabu, 17 April 2013

Surat Elektronik Untuk Sang Kekasih ( 3 )


SELAMAT MALAM IMAMKU DISEBERANG SANA....
\
Rehat sejenak bersama "Puisi" ku 


Untuk  Calon  Imam- ku


Akhy ....... ( akhy = sebutan untuk saudara laki-laki)

Terima kasih kau telah menjagaku dari jauh...
Terima kasih kau telah memelihara cinta yang             bekembang atas izin-Nya...

Wahai imamku ...
Jangan pernah lelah menungguku
Jangan pernah lelah menantiku.
Jangan pernah untuk bermunajat pada-Nya.

Yakinlah ...

Esok aku pasti kembali.
Esok kita pasti bertemu .
Esok kita pasti berjumpa.

Wahai imamku ...

Tidurlah selalu dalam dekapan-Nya.
Tidurlah selalu dalam Bimbingan-Nya.
Mimpilah aku dalam Do'a-Nya.

Agar kita dapat dipersatukan dalam KASIHNYA.

Agar kita tercurahkan rahmat-Nya.

Wahai imamku ...

Jika jangan jarak ini sebagai penghalang.
Tapi jadikanlah perekat RINDU.
Jangan jadikan jarak ini pemisah.
Tapi jadikanlah TALI penyambung .

Duhai imamku ...

Temuilah aku dalam Istikharahmu.
Temuilah aku dalam do'a munajatmu.
Temuilah aku dalam mimpi malammu .

Walau hanya dalam bayang semu.

Dan tak pernah jelas.
Biarlah itu sebagai tanda.
Biarlah itu sebagai perkenalan.

Selamat malam imamku yang diseberang sana.

Moga esok bila waktunya tiba.
Kita akan berjumpa dalam biduk KEBAHAGIAN......

Aamiin Ya Rabbal Al'amiin.........................


GOOD NIGHT SWEET DREAMS

Rabu, 10 April 2013

Pengantar Ilmu Hadist

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara keseluruhan, janganlah
kamu mengikuti langkah setan, sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu.


Ulumul Hadist 



Hadits  adalah perkataan,  pernyataan, pengamalan, dan muamalah sehari-hari  Nabi Muhammad SAW, yang disampaikan. kepada para sahabat di jamannya, dan  taqrir adalah   hal ihwal sikap/perkataan   nabi Muhammad SAW. ketika masyarakat mencari jawaban atas masalah yang mereka hadapi  saat itu.   Apa  yang disampaikan nabi Muhammad kepada sahabat-sahabatnya,  merupakan sumber ajaran Islam yang kedua sesudah Al-Quran.
 Pada masa Nabi, sesungguhnya sudah ada beberapa sahabat Nabi yang menulis hadits Nabi, tetapi jumlah mereka selain tidak banyak, juga materi hadits yang mereka catat masih terbatas. Namun, setelah rasulullah wafat, kebutuhan akan pentingnya hadits meningkat. Sehingga hadits mengalami oroses transmisi atau penyebaran. Untuk itu kita perlu tahu akan penyebaran hadits tersebut.


Cara nabi menyampaikan Hadist
1. Cara rasulullah menyampaikan haditsnya pada dasarnya dengan cara natural saja. Ada masalah, langsung beliau yang memberikan penyelesaian.
2. Dengan lisan dan perbuatan, dihadapan orang banyak, di mesjid, pada waktu malam dan subuh.
3. Dalam bentuk tulisan.


 Periwayatan pada zaman nabi

Hadits yang diterima oleh para sahabat cepat tersebar di masyarakat. Karena, para sahabat pada umumnya sangat berminat untuk memperoleh hadits nabi kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Mereka (sahabat) secara bergantian menemui nabi. Seandainya Umar tidak datang maka berita dari nabi akan disampaikan oleh sahabat lainnya kepadanya.
Proses transmisi hadits pada masa nabi bisa dibilang lancar. Kelancaran ini terjadi karena 2 hal yaitu:
a. Cara penyampaian hadits oleh rasulullah secara langsung.
b. Minat yang besar dari para sahabat.

 Periwayatan Hadits Pada Zaman Sahabat Nabi

a. Pada Zaman Abu Bakar al-Shiddiq
Abu bakar merupakan sahabat nabi yang pertama-tama menunjukkan kehati-hatiannya dalam periwayatan hadits. Beliau sangat berhati-hati dengan periwayatan hadist. Ini didasarkan pengalaman Abu Bakar tatkala menghadapi kasus waris untuk seorang nenek. Beliau tidak melihat petunjuk Quran dan praktek nabi yang memberikan harta warisaan kepada nenek. Lalu ia bertanya kepada sahabat-sahabat yang lain. Al-Mughirah bin Syu’bah menyatakan kepada Abu Bakar, bahwa nabi memberikan bagian waris kepada nenek sebesar seperenam bagian. Namun Abu Bakar tidak langsung percaya terhadap perkataan sahabat tersebut. Dia meminta sahabat tersebut untuk mendatangkan saksi. Lalu Muhammad bin Maslamah memberikan kesaksian. Akhirnya Abu Bakar menetapkan kewarisan nenek dengan memberikan seperenam bagian.
Karena Abu Bakar sangat berhati-hati dalam periwayatan hadits, maka dapat dimaklumi bila jumlah hadits yang diriwayatkannya relatif tidak banyak. Data sejarah tentang kegiatan periwayatan hadits dikalangan umat islam pada masa khalifah Abu Bakar sangat terbatas. Hal ini karena pada pemetintahan Abu Bakar tersebut, umat islam dihadapkan ancaman dan kekacauan yang membahayakan pemerintahan dan Negara. Al- Suyuthiy telah menghimpun hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar dari berbagai mukharrij, sebanyak 695 hadits.
b. Pada Zaman Umar bin Khattab
Pada masa Umar penyebaran hadits kurang berjalan. Karena pada masa umar lebih memfokuskan pada membaca dan mendalami Quran. Akan tetapi lebih banyak dari masa Abu Bakar. Namun pada masa Umar para perawi terkekang karena Umar sangat tegas. Beliau sangat berhati-hati. Karena umar ingin ummat lebih konsentrasi dengan Quran dan lebih berhati-hati dalam periwayatan hadits.
c. Pada Masa Utsman bin Affan
Secara umum, kebijakan Utsman tentang periwayatan sama seperti khalifah sebelumnya. Namun langkah yang dijalani Utsman tidaklah setangkas Umar bin Khattab. Utsman meminta kepada para sahabat agar tidak meriwayatkan hadits yang tak pernah didengar pada masa Abu Bakar dan Umar. Penyebaran hadits pada masa Utsman lebih banyak dibanding dengan khalifah Umar bin Khattab. Karena wilayah islam meluas dan perawi jumlahnya bertambah dan meluas.
d. Pada Masa Ali bin Abi Thalib
Khalifah Ali bin Thalib pun tidak jauh berbeda sikapnya dengan para pendahulunya dalam periwayatan hadits. Secara umum ali bersedia menerima riwayat hadits Nabi setelah periwayat hadits mengucapkan sumpah, bahwa hadits itu benar-benar berasal dari Nabi. Hanya dengan periwayat yang benar-benar dipercayainya, Ali tidak meminta untuk bersumpah.
Transmisi hadits pada masa Ali juga sangat hati-hati seperti para pendahulunya. Akan tetapi pada masa Ali, kondisi politik sudah makin menajam. Hal ini menjadi dampak negatif dalam penyebaran hadits. Kepentingan politik telah mendorong pihak-pihak tertentu melakukan pemalsuan hadits. Pemalsuan terjadi karena kepentingan politik antara Ali dan Muawwiyah. Dengan demikian, tidak seluruh periwayat hadits dapat dipercaya riwayatnya.

2. Periwayatan Hadits Pada Zaman Sesudah Generasi Sahabat
Pada zaman sesudah generasi sahabat Nabi, khususnya pada saat hadits Nabi dihimpunkan dalam kitab-kitab hadits, telah telah dibakukan tata cara penyampaian dan penerimaan riwayat hadits Nabi. Pembakuan periwayatan ini sangat erat kaitannya upaya ulama dari hadits-hadits palsu.
Pada masa ini konsentrasi kepada hadist sangat meningkat. Yang mereka kaji bukan hanya matan saja, namun juga sanad-nya. Periwayatan hadits Nabi pada zaman ini tidak memperoleh hadits secara langsung dari Nabi, karena mereka memang tidak sezaman dengan Nabi.
Periwayatan hadits pada zaman sesudah sahabat Nabi telah makin meluas, rangkaian periwayat hadits yang beredar di masyarakat menjadi lebih panjang dibandingkan pada zaman sahabat Nabi.
3.Jalan Menerima Hadits (thuruq at-tahammul) dan Penyampaiannya.
Yang dimaksud dengan "jalan menerima hadits" (thuruq at- tahammul) adalah cara-cara menerima hadits dan mengambilnya dari Syaikh.
Dan yang dimaksud dengan "bentuk penyampaian" (sighatul- ada') adalah lafaz-lafaz yang digunakan oleh ahli hadits dalam meriwayatkan hadits dan menyampaikannya kepada muridnya, misalnya dengan kata : sami'tu "Aku telah mendengar"; haddatsani "telah bercerita kepadaku"; dan yang semisal dengannya.
Dalam menerim hadits tidak disyaratkan seorang harus muslim dan baligh. Inilah pendapat yang benar. Namun ketika menyampaikannya, disyaratkan harus Islam dan baligh. Maka diterima riwayat seorang muslim yang baligh dari hadits yang diterimanya sebelum masuk Islam atau sebelum baligh, dengan syarat tamyiz atau dapat membedakan (yang haq dan yang bathil) sebelum baligh.
Sebagian ulama memberikan batasan minimal berumur lima tahun. Namun yang benar adalah cukup batasan tamyiz atau dapat membedakan. Jika ia dapat memahami pembicaraan dan memberikan jawaban dan pendengaran yang benar, itulah tamyiz dan mumayyiz. Jika tidak, maka haditsnya ditolak.
Jalan untuk menerima hadits ada delapan, yaitu as-sama' atau mendengar lafadh syaikh; al- qira'ah atau membaca kepada syaikh; al-ijazah, al-munawalah, al-kitabah, al-I'lam, al-washiyyah, dan al-wijadah. Berikut ini masing-masing penjelasannya berikut lafadh-lafadh penyampaian masing-masing :
1. As-Sama' atau mendengar lafadh syaikh (guru).
Metode ini bisa berbentuk pendekatan (imlâ’) Hadis atau yang lainnya, bisa dari hafalan dan bisa juga dari tulisan seorang guru Hadis. Menurut jumhur ahli Hadis, ini merupakan metode yang paling tinggi.
Gambarannya : Seorang guru membaca dan murid mendengarkan; baik guru membaca dari hafalannya atau tulisannya, dan baik murid mendengar dan menulis apa yang didengarnya, atau mendengar saja, dan tidak menulis. Menurut jumhur ulama, as-sama' ini merupakan bagian yang paling tinggi dalam pengambilan hadits.
Lafaz-lafaz penyampaian hadits dengan cara ini adalah aku telah mendengar dan telah menceritakan kepadaku. Jika perawinya banyak : kami telah mendengar dan telah menceritakan kepada kami. Ini menunjukkan bahwasannya dia mendengar dari sang syaikh bersama yang lain.

2. Al-Qira'ah atau membaca kepada syaikh.
Para ahli hadits menyebutnya : Al-Ardl. Bentuknya : Seorang perawi membaca hadits kepada seorang syaikh, dan syaikh mendengarkan bacaannya untuk meneliti, baik perawi yang membaca atau orang lain yang membaca sedang syaikh mendengarkan, dan baik bacaan dari hafalan atau dari buku, atau baik syaikh mengikuti pembaca dari hafalannya atau memegang kitabnya sendiri atau memegang kitab orang lain yang tsiqah.
Mereka (para ulama) berselisih pendapat tentang membaca kepada syaikh; apakah dia setingkat dengan as-sama', atau lebih rendah darinya? Yang benar adalah lebih rendah dari as-sama'.
Ketika menyampaikan hadits atau riwayat yang dibaca si perawi menggunakan lafaz-lafaz : aku telah membaca kepada fulan atau telah dibacakan kepadanya dan aku mendengar orang membaca dan ia menyetujuinya.
Lafadh as-sama' berikutnya adalah yang terikat dengan lafadh qira'ah seperti : haddatsana qira'atan 'alaih - (ia menyampaikan kepada kami melalui bacaan orang kepadanya). Namun yang umum menurut ahli hadits adalah dengan menggunakan lafaz akhbarana saja tanpa tambahan yang lain.
3. Al-Ijazah
Yaitu : Seorang Syaikh mengijinkan muridnya meriwayatkan hadits atau riwayat, baik dengan ucapan atau tulisan. Gambarannya : Seorang syaikh mengatakan kepada salah seorang muridnya : Aku izinkan kepadamu untuk meriwayatkan dariku demikian. Di antara macam-macam ijazah adalah :
a. Syaikh mengijazahkan sesuatu yang tertentu kepada seorang yang tertentu. Misalnya dia berkata,"Aku ijazahkan kepadamu Shahih Bukhari". Di antara jenis-jenis ijazah, inilah yang paling tinggi derajatnya.
b. Syaikh mengijazahkan orang yang tertentu dengan tanpa menentukan apa yang diijazahkannya. Seperti mengatakan,"Aku ijazahkan kepadamu untuk meriwayatkan semua riwayatku".
c. Syaikh mengijazahkan kepada siapa saja (tanpa menentukan) dengan juga tidak menentukan apa yang diijazahkan, seperti mengatakan,"Aku ijazahkan semua riwayatku kepada semua orang pada jamanku".
d. Syaikh mengijazahkan kepada orang yang tidak diketahui atau majhul. Seperti dia mengatakan,"Aku ijazahkan kepada Muhammad bin Khalid Ad- Dimasyqi"; sedangkan di situ terdapat sejumlah orang yang mempunyai nama seperti itu.
e. Syaikh memberikan ijazah kepada orang yang tidak hadir demi mengikutkan mereka yang hadir dalam majelis. Umpamanya dia berkata,"Aku ijazahkan riwayat ini kepada si fulan dan keturunannya". Bentuk pertama (a) dari beberapa bentuk di atas adalah diperbolehkan menurut jumhur ulama, dan ditetapkan sebagai sesuatu yang diamalkan. Dan inilah pendapat yang benar. Sedangkan bentuk-bentuk yang lain, terjadi banyak perselisihan di antara para ulama. Ada yang bathil lagi tidak berguna.
Lafaz-lafaz yang dipakai dalam menyampaikan riwayat yang diterima dengan jalur ijazah adalah أَجَازَ لِيْ فُلاَنٌ (beliau telah memberikan ijazah kepada si fulan), حَدَّثَنَا إِجَازَةً, أَخْبَرَنَا إِجَازَةً, dan أَنْبَأَنَا إِجَازَةً (beliau telah memberitahukan kepada kami secara ijazah).
4. Al-Munaawalah atau menyerahkan .
Pada metode ini terdapat dua macam cara, yaitu :
a. Al-Munawalah yang disertai dengan ijazah. Ini tingkatannya paling tinggi di antara macam- macam ijazah secara muthlaq. Seperti jika seorang syaikh memberikan kitabnya kepada sang murid, lalu mengatakan kepadannya,"Ini riwayatku dari si fulan, maka riwayatkanlah dariku". Kemudian buku tersebut dibiarkan bersamanya untuk dimiliki atau dipinjamkan untuk disalin. Maka diperbolehkan meriwayatkan dengan seperti ini, dan tingkatannya lebih rendah daripada as-sama' dan al-qira'ah.
b. Al-Munawalah yang tidak diiringi ijazah. Seperti jika seorang syaikh memberikan kitabnya kepada sang murid dengan hanya mengatakan : "Ini adalah riwayatku". Yang seperti ini tidak boleh diriwayatkan berdasarkan pendapat yang shahih.
Lafadh-lafadh yang dipakai dalam menyampaikan hadits atau riwayat yang diterima dengan jalan munawalah ini adalah jika si perawi berkata : نَاوَلَنِيْ وَأَعْجَزَنِيْ, atau حَدَّثَنَا مُنَاوَلَةً وَإِجَازَةً, atau أَخْبَرَنَا مُنَاوَلَةً.
5. Al-Kitabah
Yaitu : Seorang syaikh menulis sendiri atau dia menyuruh orang lain menulis riwayatnya kepada orang yang hadir di tempatnya atau yang tidak hadir di situ. Kitabah ada 2 macam :
a. Kitabah yang disertai dengan ijazah, seperti perkataan syaikh,"Aku ijazahkan kepadamu apa yang aku tulis untukmu", atau yang semisal dengannya. Dan riwayat dengan cara ini adalah shahih karena kedudukannya sama kuat dengan munaawalah yang disertai ijazah.
b. Kitabah yang tidak disertai dengan ijazah, seperti syaikh menulis sebagian hadits untuk muridnya dan dikirimkan tulisan itu kepadanya, tapi tidak diperbolehkan untuk meriwayatkannya. Di sini terdapat perselisihan hukum meriwayatkannya. Sebagian tidak memperbolehkan, dan sebagian yang lain memperbolehkannya jika diketahui bahwa tulisan tersebut adalah karya syaikh itu sendiri.
6. Al-I'lam (memberitahu)
Yaitu : Seorang syaikh memberitahu seorang muridnya bahwa hadits ini atau kitab ini adalah riwayatnya dari si fulan, dengan tidak disertakan ijin untuk meriwayatkan daripadanya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meriwayatkan dengan cara al-I'lam. Sebagian membolehkan dan sebagian yang lain tidak membolehkannya. Ketika menyampaikan riwayat dengan cara ini, si perawi berkata : أَعْلَمَنِيْ شَيْخِيْ (guruku telah memberitahu kepadaku).
7 . Al-Washiyyah (mewasiati)
Yaitu : Seorang syaikh mewasiatkan di saat mendekati ajalnya atau dalam perjalanan, sebuah kitab yang ia wasiatkan kepada sang perawi.
Riwayat yang seorang terima dengan jalan wasiat ini boleh dipakai menurut sebagian ulama, namun yang benar adalah tidak boleh dipakai.
Ketika menyampaikan riwayat dengan wasiat ini perawi mengatakan : Aushaa ilaya fulaanun bi kitaabin - أَوْصَى إِلَى فُلاَنٍ بِكِتَابٍ  (si fulan telah mewasiatkan kepadaku sebuah kitab), atau haddatsanii fulaanun washiyyatan – حَدَّثَنِيْ فُلاَنٍ وَصِيَّةً  (si fulan telah bercerita kepadaku dengan sebuah wasiat).
8. Al-Wijaadah (mendapat)
Yaitu : Seorang perawi mendapat hadits atau kitab dengan tulisan seorang syaikh dan ia mengenal syaikh itu, sedang hadits- haditsnya tidak pernah didengarkan ataupun ditulis oleh si perawi. Wijadah ini termasuk hadits munqathi', karena si perawi tidak menerima sendiri dari orang yang menulisnya.
Dalam menyampaikan hadits atau kitab yang didapati dengan jalan wijadah ini, si perawi berkata,"وَجَدْتُ بِخَطِّ فُلاّنٍ" (aku mendapat buku ini dengan tulisan si fulan), atau "قَرَأْتُ بِخَطِّ فُلاَنٍ" (aku telah membaca buku ini dengan tulisan si fulan); kemudian menyebutkan sanad dan matannya.
Contoh cara penulisan Hadist

 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Allah Ta'ala berfirman,


أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Wabilahi tafik wal hidayah, wassalamualaikum Wrwb.    ( semoga bermanfaat }